Logos Christian School
Andhika Plaza C/10-11, Simpang Dukuh 38-40 Surabaya 60275
545-2244, 0852-3200-3300, info@logos.sch.id
Loading Quotes...

TEORI PENDIDIKAN JOHN CALVIN

The Educational Theory of John Calvin

Analisa oleh: Eva Morrison

1. Teori Nilai

Bagi Calvin, pengetahuan terbagi atas dua bagian, yaitu Pengetahuan akan Allah dan akan manusia.(1) Pengetahuan akan Allah diperoleh dari Perjanjian Lama dan Per­janjian Baru, dan tugas pendidikan bagian ini ada pada gereja.(2) Sasaran pen­didik­an Kristen adalah mengajar seorang untuk dapat hidup berpegang pada kebajikan dan nilai-nilai Kristiani. Di arena pengetahuan akan diri, Calvin menun­juk­kan perhatian yang sangat besar pada pembelajaran para humanis pada jamannya. Ia adalah murid seorang humanis terkenal, Cortier, dan sangat meng­har­gai metode pengajaran dan pembelajaran dari Cortier.[3) Pada faktanya, kemanu­sia­an bagi Calvin jauh lebih penting ketimbang hukum dan medis.(4) Calvin sangat berbeda dari para Reformator lainnya, seperti Luther dan Zwingli, khususnya di dalam mem­beri­kan perhatian besar pada seni liberal sebagai suatu sarana untuk memperkem­bang­kan kemanusiaan manusia.(5)

2. Teori Pengetahuan

Bagi Calvin, dasar pengetahuan berasal dari Allah. Nyatanya, Calvin percaya bahwa pengetahuan tentang diri sendiripun hanya bisa diperoleh melalui “merenungkan wajah Allah.”(6). Karena Allah adalah dasar pengetahuan, dan kemampuan mengenal Allah adalah hal batiniah(7), maka kelihatannya Calvin tidak mau terlalu membe­da­kan antara pengetahuan dan kepercayaan. Bagi Calvin, dalam bukunya Institutes, “… orang yang tak beriman membawa kematian bagi seluruh Firman Allah.”(8) Setiap kesalahan pengertian terhadap kebenaran selalu merupakan akibat langsung dari dosa (berpaling dari Allah), atau dari tidak mengenal Allah sama sekali. Kebenaran akan pengetahuan-diri dan pengetahuan akan Allah hanya bisa tiba pada kita melalui kepercayaan kita akan Allah.(9)

3. Teori Natur Manusia

Dasar Teologi Reformed dari Calvin melihat manusia sepenuhnya sebagai makhluk ciptaan Allah yang telah jatuh dan berdosa. Pengampunan dosa hanya bisa diperoleh melalui pengorbanan dan kematian Kristus, Anak Allah, dan totalitas kepercayaan akan kemampuan Kristus untuk mengampuni dosa kita. Bertolak belakang dengan pengertian populer, Doktrin pemilihan Calvin menafsirkan kematian Kristus sebagai pengorbanan bagi semua manusia. Jaminan pemilihan bagi Calvin adalah dibuktikan melalui iman di dalam Kristus.(10) Akibatnya, iman di dalam Kristus memungkinkan pengetahuan akan diri dan pengertian serta penghargaan terhadap dunia.(11)

4. Teori Pembelajaran

Pelatihan pendidikan Calvin sendiri sangatlah berdasarkan pada pemikiran humanisme. Ia sangat menekankan pelatihan akan seni liberal, bahkan melampaui belajar hukum dan medis.(12) Calvin meletakkan posisi sangat penting bagi pen­didikan, yang harus dimulai sejak usia dini, agar tidak “menjadikan gereja sebagai padang gurun bagi anak-anak kita.” Ia menata ulang Sekolah-Sekolah Dasar yang ada di Jenewa, menekankan sikap disiplin, kemurnian dan keseriusan. Kuri­kulum­nya sangat mirip dengan pemikiran Renaissance. Kurikulum ini meliputi juga pelatihan tata bahasa dan kosa kata bahasa Latin, yang juga setara dengan pendidikan fisik. Mazmur dinyanyikan dalam bahasa Perancis setiap hari satu jam lamanya. Calvin menghendaki dengan keras tuntutan bahwa pimpinan sekolah harus memiliki “kepribadian yang murah hati, lepas dari segala bentuk kekasaran dan kekejaman (un esprit débonnaire).”(14)

5. Teori Transmisi (Pengalihan)

Calvin telah mengerjakan teori pemerintahan. Ia memisahkan gereja ke dalam empat jabatan: pendeta; doktor atau pengajar; majelis atau penatua; dan diaken. Pengajar (guru) secara khusus bertugas di sekolah-sekolah dan pelayan bertugas di Sekolah Minggu. Ia melihat bahwa fungsi utama gereja adalah untuk mengajar.(15) Pengetahuan yang mendalam tentang suatu topik didapatkan melalui pengulangan, seperti nyanyian Mazmur yang dilakukan setiap hari. Calvin juga sangat memperhatikan pengajaran dan khotbah eksposisi yang menyatu dengan proses belajar mengajar.(16)

6. Teori Masyarakat

Calvin meletakkan masyarakat sepenuhnya di bawah kedaulatan Allah. Bagi Calvin, Allah seharusnya menjadi presiden dan hakim di semua pemilihan kita.(17) Namun Calvin tidak menafsirkan negara sebagai Kerajaan Allah, melainkan lebih merupakan suatu kesempatan bagi pemerintahan yang baik dan tempat menolong sesama manusia. Ia percaya bahwa negara seharusnya mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk gereja. Di dalam pemerintahan yang ia tegakkan di Jenewa, para Master (magistrates) harus menafsirkan hukum Calvin menerima hukum pemerintahan Romawi bagi wilayah sekuler. He encouraged these magistrates to have weekly prayer times to keep themselves humble and truthful. Calvin’s espoused a state run by lay people who upheld the teachings of the church (theocracy), not a state run by ministers (hierocracy).(18)

7. Teori Kesempatan

While in Geneva, Calvin set up a government whose citizens pledged to maintain a school to which all would be obliged to send their children including the children of the poor, who would attend free of charge. It is not entirely clear whether girls were included in this pledge, though there was a school for girls in Geneva.(19) Of course, the right to schooling was only available to those who were citizens of Geneva. Calvin also heavily encouraged the building, through private donations, the building of the Geneva Academy.(20) This Academy became a leading institution of higher education in Europe, and supplied the blueprint for universities in colonial America.

8. Teori Kesepakatan (Konsensus)

Within Christianity, the only framework Calvin knew, he believed in consensus building. He frequently exchanged ideas with other reformers, carefully supporting his view through scripture. He negotiated and compromised. Toward the end of his life, Calvin proposed a “free and universal council to reunite all Christianity”.(21) He was even willing to have the pope preside over the council, provided he would submit to the decisions of the council.(22) However, Calvin was unable to build consensus with thinkers outside his faith.

Referensi

(1) Calvin, John, Institutes for the Christian Religion :Book First, Chapter I, Section 1
(2) Tillich, Paul, History of Christian Thought, (New York: Harper and Row, 1968) p. 272
(3) Reid, W. Stanford, John Calvin: His Influence on the Western World, (Michigan: Zondervan, 1982) p.15
(4) Ibid., p.16
(5) Ibid., p. 15
(6) Institutes for Christian Religion, Chapter I, Section 2
(7) Ibid., Ch. 2, Sec. 1
(8) Ibid., Ch. 6, Sec. 4
(9) Ibid., Ch.1, Sec.2
(10) John Calvin: His Influence of the Western World, p. 204-205

  • LOGOS Christian School

    Andhika Plaza C/10-11, Simpang Dukuh 38-40
    Surabaya 60275
    +62 31 545 2244
    +62 852 3200 3300
    info@logos.sch.id

  • Newsletter

    Latest LOGOS news delivered to your inbox